Tampilkan postingan dengan label Nahdlatul Ulama. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Nahdlatul Ulama. Tampilkan semua postingan

Rabu, 21 Februari 2018

Kiai Tarekat Bahas Proyek Arab Saudi

Malang, Nahimunkar: Berita Islam & Aliran Sesat. Para kiai tarekat mulai merespon kebijakan-kebijakan pemerintah Arab Saudi terkait renovasi Masjidil Haram dan Masjid An-Nabawi serta perluasannya. Akibat dari renovasi yang dilakukan itu adalah digusurnya tempat-tempat bersejarah umat Islam dan berubahnya sanana ibadah haji dan umrah.

Para kiai dan pengamal tarekat yang tergabung dalam Jam’iyyah Ahlith Thariqah Al-Mu’tabarah An-Nahdliyah membahas mengenai kebijakan-kebijakan di negara Hejaz itu dalam rapat koordinasi persiapan bahan kajian Musyawarah Nasional, Senin (6/1) di Pondok Pesantren Al-Hidayah Donowarih Karangploso Malang.

Kiai Tarekat Bahas Proyek Arab Saudi (Sumber Gambar : Nu Online)
Kiai Tarekat Bahas Proyek Arab Saudi (Sumber Gambar : Nu Online)

Kiai Tarekat Bahas Proyek Arab Saudi

Salah satu permasalahan yang berkaitan dengan kebijakan Arab Saudi yang dibahas dalam rapat Idaroh Aliyah adalah pelestarian situs-situs sejarah Islam yang berkaitan dengan Nabi dan Sahabatnya.

Nahimunkar: Berita Islam & Aliran Sesat

Disinyalir situs-situs itu akan dimusnahkan. Juga masalah tempat thawaf (ma’thaf) dan sa’i (mas’a) yang rencannya akan diganti dengan lantai bergerak (eskalator). Sehingga meskipun harus mengelilingi Ka’bah dan berjalan dari Shafa-Marwa para peziarah haji tidak perlu berjalan. Jatman akan membahas hukumnya dalam Munas Kaltim nanti.

Isu lainnya mengenai rencana pembuatan Hidrolift untuk Maqam Ibarahim oleh pemerintah Saudi. Dimana dengan dipasangnya hidralif maka Maqam Ibrahim bisa disimpan di dalam tanah jika dikehendaki dan bisa dimunculkan kembali ke permukaan pada saat musim haji. Dalam masalah ini Jatman akan menentukan sikap.

Nahimunkar: Berita Islam & Aliran Sesat

“Kalau mengenai tempat thawaf dan Sa’i selama ini kami hanya mendengar bahwa itu sekedar wacana. Akan tetapi masalah Maqam Ibrahim katanya dalam waktu dekat ini akan direalisasikan,” kata seorang Kiai utusan dari Probolinggo.

"Kami sudah meneliti masalah ini bersama Gus Yusuf kemarin lalu. Dan informasi yang kami dapatkan adalah bahwa ini adalah politik Pemerintah Saudi untuk menghilangkan Maqam Ibrahim supaya tidak ada orang ziarah kesana. Jangan-jangan setelah disimpan dalam tanah akan dikunci dan tidak akan dikembalikan,” tambah sang Kiai.

Oleh karen itu, rapat menghasilkan keputusan bahwa semua yang dihasilkan dalam Munas nanti yang berkaitan dengan Pemerintah Arab Saudi akan dikirim utusan untuk menyampaikannya.

“Kita yakin bahwa Raja Saudi akan mempertimbangkan aspirasi kita untuk menentukan kebijakannya,” kata Kiai Zaenal Pimpinan rapat. (Ahmad Nur Kholis/Anam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Nahimunkar: Berita Islam & Aliran Sesat Nahdlatul Ulama, Pondok Pesantren Nahimunkar: Berita Islam & Aliran Sesat

Senin, 19 Februari 2018

Memaknai Sejarah ala Gus Dur

Oleh Mh. Nurul Huda*? Belum lama ini penulis mengirimkan esai berisi pokok pikiran Kiai Abdurrahman Wahid Allahu yarham (selanjutnya disebut Gus Dur saja) mengenai falsafat sejarah spekulatifnya. Inti pokoknya, Gus Dur melihat kemungkinan sebuah trayek sejarah (historical trajectory) peradaban Islam yang sifatnya eklektik dan kosmopolitan di masa mendatang.?

Peradaban yang diprediksikan membentang dari Asia Tenggara hingga kawasan Morokko ini terwujud bila umat Islam mampu menjawab tantangan demi tantangan. Diantara tantangan itu ialah kemampuan mereka memahami sejarah secara arif dan bijaksana. Maksudnya, menurut Gus Dur, umat Islam dapat menjadi semakin “dewasa” dan tambah “matang” pada masa kini dan masa depan, karena berhasil belajar dari sejarah masa lampaunya juga sejarah bangsanya. Disitu sejarah menjadi keberkahan.?

Memaknai Sejarah ala Gus Dur (Sumber Gambar : Nu Online)
Memaknai Sejarah ala Gus Dur (Sumber Gambar : Nu Online)

Memaknai Sejarah ala Gus Dur

Mengingat pentingnya memahami sejarah, perlulah kiranya penulis esainya ini menghadirkan kembali pokok-pokok pikiran kiai kita ini. Selain dimaksudkan untuk mengetahui pandangan beliau mengenai sejarah, esai ini menjadi bahan renungan “(re)generasional” yang hanya karenanya semata esai ini terbit.

Apa itu Sejarah

Ada beragam definisi sejarah diberikan oleh para sejarawan. Diantara definisi itu memandang sejarah sebagai kajian mengenai kejadian-kejadian yang telah lewat atau telah lalu, kita lampaui. Namun sejarah tidak hanya soal apa yang telah terjadi, tetapi cerita tentang apa yang telah terjadi. Maka kajian sejarah berarti juga interpretasi terhadap kejadian-kejadian masa lampau yang diceritakan kembali. Sejarawan mengkaji sederet fakta-fakta, yang bisa jadi tidak dikaji sejarawan yang lain atau dikaji sebagian kecil saja dari fakta-fakta itu. Hal mana lalu memungkinkan adanya beragam versi cerita menyangkut kejadian yang sama oleh mereka.?

Nahimunkar: Berita Islam & Aliran Sesat

Bagi Gus Dur sendiri, sejarah tidaklah “semata” kegiatan ilmiah seperti dipraktekkan para sejarawan atau penulis dan pengumpul fakta-fakta. Sejarah terutama adalah humaniora, yakni pengetahuan yang bertujuan mengantarkan manusia lebih manusiawi, membuat manusia lebih berbudaya dan berprikemanusiaan, lebih arif dan bijaksana. Bukan sebaliknya, untuk memupuk prasangka dan kecurigaan atau mereproduksi dendam dan sikap negatif bagi generasi selanjutnya. Dan hal itu dapat dimungkinkan bila sejarah dilihat sebagai “kejadian demi kejadian (yang) tidak merupakan tahap-tahap yang berdiri sendiri, melainkan suatu rangkaian utuh dari masa yang sangat panjang untuk mencapai kedewasaan dan kematangan”. Dengan memandangnya sebagai humaniora, maka proses sejarah membawa berkah. (Gus Dur Menjawab Kegelisahan Rakyat, 84-88).

Nahimunkar: Berita Islam & Aliran Sesat

Jadi, ada tiga hal yang dapat kita garis bawahi dari pandangan Gus Dur. Pertama, fakta-fakta kejadian sangatlah penting untuk mencapai pemahaman akurat mengenai kebenaran peristiwa sejarah secara apa adanya. Kedua, penting pula meletakkan peristiwa sejarah itu dalam rangkaian narasinya yang utuh, sedemikian rupa sehingga pelajaran atau moral kejadian demi kejadian dalam cerita sejarah itu dapat sekaligus dipetik. Dan ketiga, sejarah menambah “kedewasaan dan kematangan” masyarakat untuk memosisikan diri dan mengorientasikan masyarakat secara tepat dan benar ke arah masa depan. Baru bila ketiga hal ini dicapai, sejarah dan buku-buku sejarah menjadi berkah.

Adakah sejarah yang tidak membawa berkah dan mengapa hal itu terjadi? Jawabannya ada. Gus Dur menunjukkan tiga macam hal atau sebab yang membuat sejarah tidak berkah. Pertama, tiadanya kejujuran intelektual dan konsistensi (dalam mencari kebenaran) dari para sejarawan sendiri. Ketidakjujuran itu diperlihatkan dari enggannya menerima sejarah secara apa adanya. Kelekatannya dengan lingkungan kepentingan kekuasaan, mengakibatkan mereka sulit mengambil jarak dengan objek sejarah yang diselidiki. Ada perselingkuhan antara proses produksi pengetahuan sejarah dengan produksi kekuasaan itu sendiri.?

Kedua, ketidakakuratan pemahaman sejarah dapat berkaitan dengan kekeliruan dalam memberikan penjelasan kausalitas (sebab-akibat) kepada peristiwa demi peristiwa. Kekeliruan macam ini kerap terjadi di kalangan sejarawan atau pihak lain yang memanfaatkan catatan sejarah, akibat dari pengambilan kesimpulan yang dideduksikan berdasarkan satu sudut pandang, atau secara induktif berasal dari satu sudut kenyataan saja. Bisa jadi klaimnya ilmiah, tapi sesungguhnya berpikirnya ideologis. Padahal, kata Gus Dur, “kenyataan sejarah dan rasio tidaklah bisa disamakan begitu saja... Keruwetan sejarah sendiri menunjukkan kekalangkabutan sejarah itu juga” (Gus Dur Menjawab Perubahan Zaman, 60). Kiranya yang disebut “rasio” disini adalah rasio-murni atau rasio matematis yang membentuk ideal-ideal pikiran sejarahwan sendiri dalam obsesinya untuk memanipulasi, mengontrol dan menjelaskan kompleksitas kehidupan.?

Ketiga, bagi aktor sejarah itu sendiri atau propagandis ideologi yang memanfaatkan data-data sejarah (fakta-fakta yang lalu) untuk kepentingan justifikasi diri, mereka berbangga-bangga terhadap kelompoknya sendiri hingga melupakan kejujuran dan objektivitas. Mereka mengagung-agungkan pandangannya sendiri yang celakanya disertai sikap merendahkan orang lain dan bersikap eksklusifyang tidak menghargai pihak lain. Dalam pandangan Gus Dur, sikap bangga disertai merendahkan pihak lain dalam sejarah itu mencerminkan apa yang dinyatakan dalam kitab suci Al-Qur’an “kullu hisbin bima ladaihi farihin”, bahwa setiap kelompok bersikap bangga atas apa yang dimilikinya. Padahal, lanjut Gus Dur, sikap mental bangga dan angkuh yang disertai merendahkan orang lain justru dikecam dan ditolak oleh Islam. “Itu tidak lain adalah sikap eksklusif… sebagaimana dibuktikan oleh sejarah, menjadi pangkal bencana bagi masyarakat apapun, di kawasan manapun di dunia ini” (“Kesabaran dan Kemurahan Hati”, Duta Masyarakat, 10 Januari 2003).

Maka hanya dengan memahami sejarah secara holistik dan jujur, kita akan dapat mengambil pelajaran. Memahami sejarah berarti juga menyangkut keterbukaan diri untuk mengambil aneka wawasan dalam kehidupan. Ia mendorong kita untuk “dengan sungguh-sungguh dan hati-hati agar semua pihak tidak mengulang kesalahan demi kesalahan sebelumnya” dan untuk selanjutnya menyongsong masa depan (“Arah Dua Pola Kehidupan [1]”, 10 Nopember 2003). Ini senada dengan ungkapan Ortega y Gasset, bahwa tanpa sejarah manusia laksana berenang di tengah samudera kebingungan. Hanya dengan mengingat masa lampau, manusia dapat bicara tentang masa depan.

Tandem “rasionalitas-dan-spiritualitas”: sejarah masa depan

Kiranya bukanlah suatu kebetulan belaka bila lima bulan setelah dimakzulkan Gus Dur segera menulis kolom-kolom sejarah nusantara. Pikirannya mengalir deras meskipun dirinya berada di atas pembaringan kamarnya di rumah sakit dan pada tahun-tahun menjelang wafatnya. Menulis sejarah lama memiliki arti khusus. Gus Dur mencari ritme sejarah bangsanya.

Dengan membaca kembali dan merefleksikan sejarah lama, Gus Dur menemukan ritme itu atau hukum-hukum sejarah (Gus Dur juga menyebutnya “hukum alam”). Peristiwa-peristiwa penting dalam epos sejarah masa lampau yang bersifat partikular dicermati dan dianalisis. Lalu suatu bagian ideal tertentu diambilnya dari ayunan bandul dari dua aspek yang saling antagonistik (bertentangan) yang berlangsung dalam kehidupan sejarah itu. Berikutnya, telaah ritme-ritme itu dipertahankan atau dimodifikasi sesuai dengan kebutuhan hidup dari sejarah masa kini.?

Gus Dur melakukan suatu analisis meta-historis. Dengan membaca kembali sejarah lama, ia menampilkan bagaimana orang-orang/aktor-aktor sejarah pada masa lalu beradaptasi dengan lingkungannya berdasarkan “program hidup” mereka (misalnya: raja-raja dalam kerajaan Hindu dan kerajaan Budha, Kerajaan Hindu-Budha dan Kerajaan Islam, Islam dan Nasionalisme, keserba-rasionalistik-modern dan keserba-tradisionalan, Islam Moderat dan Islam ekstrem, keserba-liberal-an dan keserba-nonliberal-an, dan lain-lain). Dari kenyataan sejarah itu, lalu memperlihatkan bahwa hal-hal tertentu tidak mungkin bisa jalan, dan bahwa cara adaptasi tertentu suatu program ternyata tidak sesuai lagi dengan jaman atau sifat manusia yang hidup dalam tradisi itu.

Sejarah memiliki ritme. Dapat ditelaah dalam buku Membaca Sejarah Nusantara (2010) dan juga “Musuh Dalam Selimut” (Pengantar buku Ilusi Negara Islam), Gus Dur melakukan usaha keras untuk menyingkap dan menangkap ritme sejarah dalam epos-epos sejarahnusantara. Ritme sejarah bergerak sebagai manifestasi “pertarungan”antar aspek-aspek antagonistik (saling bertentangan) dalam kehidupan nyata yang sifatnya metafisik: yakni antara “al-nafs al-muthmainnah” (jiwa-jiwa yang tenang dan damai) dan “al-nafsal-lawwamah” (jiwa-jiwa yang resah dan penuh benci)dalam aneka manisfetasinya yang berbeda di setiap jaman. Dan seiring proses modernisasi, ritme sejarah memuat tarik menarik atau dialektika antara tuntutan hidup yang serba rasionalistik (termasuk hadirnya ragam ideologi) dan kehidupan nyata baik sejarah hidupmasyarakat, ruang batinnya maupun spiritualitas setempat yang telah berkembang.?

Dalam dialektika sejarah yang sebagian diwarnai oleh tragedi demi tragedi (perang, pengkhianatan, pemberontakan, pembunuhan, dan lain-lain), Gus Dur menemukan insight (wawasan) atau semacam “cahaya pengetahuan”, yang lalu ia proyeksikan bagi kehidupan masa depan. Perjalanan sejarah ke masa depan kiranya harus dibimbing oleh cahaya pengetahuan itu agar tragedi demi tragedi serupa tak berulang, dan sekaligusmisi masa depan (demokrasi, keadilan dan kesejahteraan) dapat dicapai. Insight itu adalah berupa pentingnya “sikap berperhitungan alias sikap rasional, yang tidak membuang spiritualitas dan menggunakannya di samping rasio.…(sebagai) ‘pengarah hidup’ dalam menjalani kehidupan yang serba sulit ini”. Kita, lanjut Gus Dur, harus bersatu dalam spiritual seperti ini (“Bersatu Dalam Penderitaan”, Proaksi, 25 Januari 2005).?

Menurut hemat penulis, pernyataan Gus Dur itu telah menyingkap apa yang disebut “rasio sejarah”(historical reason), yang ia temukan dalam perspektif tradisi kesejarahan yang dihidupinya. Yakni suatu “struktur halus” yang matang dalam perkembangan sejarah, yang manifes dan menggerakkan proses kehidupan. Maksud “tradisi kesejarahan yang dihidupi” adalah bahwa rasio sejarah itu ditangkap oleh Gus Dur dari pembacaan terhadap rangkaian tradisi panjang nusantara masa lampau dan masa kini dalam persinggungannya dengan peradaban-peradaban yang beragam (termasuk peradaban Barat) yang turut membentuk kehidupan suatu bangsa masa kini dan masa depan (masa depan sebagai proyeksi).

Rasio-sejarah temuan Gus Dur ini adalah tandem“rasionalitas-dan-spiritualitas” yang akan membimbing dan menggerakkan generasi selanjutnya dan peradaban manusia di masa-masa mendatang. “Kedewasaan dan kematangan” kita dalam menghadapi perkembangan kehidupan jaman akan juga ditentukan oleh manifestasi tandem tersebut dalam sejarahnya.

Akhirul kalam, sejarah adalah pelajaran. Masa lampau berguna bagi kita untuk “meramu berbagai pandangan dan ajaran yang sebenarnya saling bertentangan” pada masa lalu dan mencari keunggulan-keunggulan dari pandangan orang dan peradaban bangsa lain. Semua itu menjadi bagian dari bentuk pengembangan dengan gaya dan cara kita sendiri, yang digerakkan rasio sejarah itu untuk menerangi kehidupan dan membangun “program hidup” bagi generasi masa masa depan. Sejarah mengajarkan kesinambungan: memelihara apa-apa yang baik dari masa lalu dari manapun datangnya dan mengambil yang lebih baik dari masa kini untuk generasi di masa mendatang. []



*Mh. Nurul Huda, dosen STAI Al-Aqidah AL-Hasyimiyah, Jakarta, peneliti Tankinaya Institute?

Dari Nu Online: nu.or.id

Nahimunkar: Berita Islam & Aliran Sesat Kajian Sunnah, Nahdlatul Ulama Nahimunkar: Berita Islam & Aliran Sesat

Senin, 12 Februari 2018

Wapres JK Berharap Pesantren Bisa Terus Membawa Kebaikan

Jombang, Nahimunkar: Berita Islam & Aliran Sesat. Wakil Presiden (Wapres) Indonesia, Jusuf Kalla berharap Pesantren bisa terus membawa dan mendidik santrinya ke arah yang lebih baik. Hal ini disampaikan Wapres saat mengisi seminar di Pondok pesantren Darul Ulum Peterongan, Jombang, Jawa Timur, Ahad (29/10).

Wapres JK Berharap Pesantren Bisa Terus Membawa Kebaikan (Sumber Gambar : Nu Online)
Wapres JK Berharap Pesantren Bisa Terus Membawa Kebaikan (Sumber Gambar : Nu Online)

Wapres JK Berharap Pesantren Bisa Terus Membawa Kebaikan

"Kita punya modal jumlah umat Islam yang banyak tetapi tidak diiringi oleh akhlak yang baik dan benar. Semoga pesantren bisa terus membawa santrinya ke arah yang lebih baik. Data yang saya punya kita punya 800 ribu lebih masjid," jelasnya.

JK menambahkan, ia menemukan banyaknya pejabat yang korupsi. Ini tentu tidak sejalan dengan kuantitas pemeluk Agama Islam dan peribadatan yang tinggi. Dengan jumlah masjid terbanyak di dunia, mengalahkan negara-negara timur tengah seharusnya Indonesia lebih baik akhlaknya.

JK menyebutkan, di pusat juga banyak anak buahnya yang terjerat praktek korupsi. Sikap korup ini menjadi fenomena unik di negara Indonesia yang agamis.

"Anak buah Pak Karwo kemarin banyak yang tertangkap KPK ya, Alhamdulilah Pak Karwo tidak. D Jakarta juga banyak, Anak buah Pak Gubenur juga anak buah kita," bebernya.

Nahimunkar: Berita Islam & Aliran Sesat

Bahagia menurut JK yaitu bahagia dunia akhirat, bukan hanya akhirat saja, apa lagi hanya bahagia dunia. Sehingga nanti bisa menumbuhkan kemakmuran dan keadilan.

Nahimunkar: Berita Islam & Aliran Sesat

JK juga meminta generasi muda dan sarjana tidak mengharapkan jadi PNS semata. Disebabkan jumlah yang lulus dari bangku kuliah tidak sebanding dengan lowongan PNS. Kebutuhan untuk PNS hanya puluhan ribu orang, sedangkan yang lulus sarjana hampir 1 juta orang.

"Dulu PNS diterima 120 ribu, sekarang hanya 30 an ribu saja. Sedangkan setiap tahun ada 900 ribu lebih lulusan kampus," bebernya.

Menurut JK, kunci sukses berada pada diri sendiri. Tentang bagaimana setiap individu meningkatkan kualitas diri dan kemampuan masing-masing. Tidak ada kesuksesan yang jatuh dari langit.

"Bagaimana mau berhasil?, ya tergantung diri kita masing-masing," pungkasnya. (Syamsul Arifin/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Nahimunkar: Berita Islam & Aliran Sesat Nahdlatul Ulama Nahimunkar: Berita Islam & Aliran Sesat

Minggu, 11 Februari 2018

Festival Desa Teknologi-Informasi Diharap Bangun Moral Warga

Majalengka, Nahimunkar: Berita Islam & Aliran Sesat. Masyarakat menyambut baik Festival Desa Teknologi Informasi dan Komunikasi yang digagas Pemkab Majalengka di desa Tanjung Sari kecamatan Sukahaji, Majalengka, Jumat-Sabtu (26-27/9). Masyarakat mendukung penggunaan internet secara sehat untuk mengakses informasi yang menunjang peningkatan SDM warga desa.

Festival Desa Teknologi-Informasi Diharap Bangun Moral Warga (Sumber Gambar : Nu Online)
Festival Desa Teknologi-Informasi Diharap Bangun Moral Warga (Sumber Gambar : Nu Online)

Festival Desa Teknologi-Informasi Diharap Bangun Moral Warga

Salah satu tokoh masyarakat Apip Saepudin mengatakan, keberadaan teknologi, informasi, dan komunikasi di tiap desa diharapkan membangkitan warga untuk melek infomasi.

“Semoga dengan adanya TIK di tiap desa membawa keberkahan dan kemaslahatan bagi masyarakat setempat. Jangan sampai niat baik pemerintah disalahgunakan dengan mengakses yang tidak bermoral,” kata Apip yang seharinya mengajar di madrasah diniyah.

Nahimunkar: Berita Islam & Aliran Sesat

Pentingnya melek infomasi untuk mengimbangi keilmuan yang sudah serba cepat dan sebagai pembelajaran pendidikan yang moral, tandas Apip, relawan TIK.

Nahimunkar: Berita Islam & Aliran Sesat

Festival Desa Teknologi  Infomasi dan Komunikasi di desa Tanjung Sari ini terselenggara atas kerja sama dengan Kominfo bertajuk “Membangun Desa TIK yang Terintegrasi”. Kegiatan ini dibuka langsung oleh Bupati Majalengka Sutrisno.

“Pemkab Majalengka berkomitmen menanggulangi kemiskinan masyarakat di desa dengan TIK ini,” kata Sutrisno. (Tata Irawan/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Nahimunkar: Berita Islam & Aliran Sesat Nahdlatul Ulama, Nusantara, AlaSantri Nahimunkar: Berita Islam & Aliran Sesat

Selasa, 06 Februari 2018

Bupati Bogor: Peningkatan Kesejahteraan Bagian dari Pemenuhan HAM

Bogor, Nahimunkar: Berita Islam & Aliran Sesat. Bupati Bogor Nurhayanti mengungkapkan bahwa upaya peningkatan kesejahteraan adalah bagian dari pemenuhan hak-hak manusia yang paling dasar. Hal ini disampaikan pada kegiatan “Pusat Pembelajaran Pelayanan Sosial Dasar” yang digelar Muslimat NU di Pondok Pesantren Sunanul Huda, Desa Kalong 1, Leuwiliang, Bogor, Jawa Barat, Senin (7/8) siang. 

“Peningkatan kesejahteraan juga menjadi jalan pemecahan masalah bagi masyarakat untuk hidup mandiri dan berkualitas serta terpenuhi hak-hak mereka sebagai sumber daya pembangunan yang potensial,” katanya dalam sambutan yang dibacakan oleh Camat Leuwisadeng, Pepep Hamdi.

Bupati Bogor: Peningkatan Kesejahteraan Bagian dari Pemenuhan HAM (Sumber Gambar : Nu Online)
Bupati Bogor: Peningkatan Kesejahteraan Bagian dari Pemenuhan HAM (Sumber Gambar : Nu Online)

Bupati Bogor: Peningkatan Kesejahteraan Bagian dari Pemenuhan HAM

Upaya peningkatan kesejahteraan itu, lanjutnya juga dilindungi UU Nomor 11 tahun 2009 tentang kesejahteraan sosial yang kemudian dijabarkan dalam Perda Kabupaten Bogor Nomor 7 tahun 2016 tentang Kesejahteraan Sosial.

“Berbagai ketentuan yuridis tersebut dimaksudkan sebagai panduan dalam mengembangkan komitmen untuk membantu perjuangan masyarakat yang belum sejahtera. Sehingga masyarakat mampu membangun kualitasnya sebagai keluarga-keluarga yang mandiri dan sejahtera dengan ketahanan sosial yang tangguh,” imbuhnya.

Penyelenggaraan program peningkatan kesejahteraan lanjut Bupati, diharapkan mampu meningkatkan kemampuan dan keterampilan para peserta program dalam memberikan layanan sosial dasar untuk kemajuan desanya.

Nahimunkar: Berita Islam & Aliran Sesat

“Dan pada gilirannya dapat meningkatkan Indeks Desa Membangun (IDM) dengan indikator adanya peningkatan indeks ketahanan sosial, indeks ketahanan ekonomi dan ketahanan ekologi desa,” tandasnya.

Pusat Pembelajaran Pelayanan Sosial Dasar diselenggarakan atas kerjasama antara PP Muslimat NU dengan Kemeterian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi Republik Indonesia. Diikuti sedikitnya 80 orang yang merupakan kader Muslimat NU dan perempuan di wilayah Desa Kalong 1 dan sekitarnya. 

Nahimunkar: Berita Islam & Aliran Sesat

Dalam kegiatan selama tiga hari yakni 7-9 Agustus, para peserta dibagi dalam empat kelompok dan mempelajari peningkatan usaha gizi keluarga dan pelatihan kader kesehatan; pengadaan APE dan pelatihan guru PAUD; peningkatan usaha ekonomi produktif melalui pelatihan kewirausahaan berbasis kearifan lokal; dan peningkatan kapasitas kelembagaan melalui pelatihan IT dan keorganisasian.(Kendi Setiawan/Muslim Abdurrahman).

Dari Nu Online: nu.or.id

Nahimunkar: Berita Islam & Aliran Sesat Budaya, Nahdlatul Ulama Nahimunkar: Berita Islam & Aliran Sesat

Senin, 05 Februari 2018

Mubadzir, Tradisi Rebutan Ketupat Diganti Paket Siap Saji

Klaten, Nahimunkar: Berita Islam & Aliran Sesat

Puncak perayaan tradisi Syawalan di Desa Krakitan, Kecamatan Bayat, Klaten berlangsung di puncak Bukit Sidoguro, Kamis (15/8). Pada acara ini hanya dimeriahkan dua gunungan ketupat, berbeda dengan Syawalan pada tahun lalu yang dimeriahkan 37 gunungan ketupat.

Mubadzir, Tradisi Rebutan Ketupat Diganti Paket Siap Saji (Sumber Gambar : Nu Online)
Mubadzir, Tradisi Rebutan Ketupat Diganti Paket Siap Saji (Sumber Gambar : Nu Online)

Mubadzir, Tradisi Rebutan Ketupat Diganti Paket Siap Saji

Penurunan jumlah gunungan ketupat itu dijelaskan oleh Kepala Dinas Kebudayaan Pariwisata Pemuda dan Olahraga (Disbudparpora), Sugeng. Dia mengatakan gunungan ketupat memang sengaja dikurangi pada puncak perayaan tradisi Syawalan tahun ini. Menurutnya, penggunaan banyak gunungan ketupat yang diperebutkan ribuan warga malah membuatnya mubazir.

“Dulu ketupat itu banyak yang mubazir karena setelah diperebutkan warga justru tidak dimakan,” terang Sugeng.

Nahimunkar: Berita Islam & Aliran Sesat

Kendati hanya ada dua gunungan ketupat, sambung Sugeng, panitia menyediakan sekitar 6.000 paket makanan berisi ketupat dengan lauk-pauknya. Paket makanan itu dibagikan kepada pengunjung yang memadati Bukit Sidoguro.?

“Semua pengunjung dibagi paket makanan siap saji itu. Mereka bisa menyantap di lokasi atau dibawa pulang. Jadi semua paket makanan itu tidak akan mubazir,” terangnya.

Nahimunkar: Berita Islam & Aliran Sesat

Berbeda dengan tahun lalu, dua gunungan ketupat yang berjenis kelamin lanang dan wadon hanya akan dikirab dari Rawa Jombor menuju Bukit Sidoguro. Berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, kirab gunungan ketupat biasa dimulai dari Alun-Alun Klaten menuju Bukit Sidoguro.?

“Start kirab nanti ada di bawah pohon beringin di kompleks Rawa Jombor menuju atas bukit. Tidak perlu jauh-jauh karena hanya ada dua gunungan ketupat,” paparnya.

Tak berbeda dengan yang dilakukan warga di desa Krakitan, masyarakat di Desa Jimbung juga merayakan Lebaran Ketupat dengan meriah. Acara dimulai sekitar Pukul 09.00 WIB dimulai kirab dari Balai Desa Jimbung tepatnya di desa Jiwan diarak menuju lokasi dengan berjalan kaki.

Setelah proses penyebaran ketupat, beberapa warga terlihat tengah asyik saling melempari ketupat. “Bukan emosi tetapi sebagi wujud senang alias gembira,” kata Tri Subagyo, salah satu warga.

Redaktur ? : Mukafi Niam

Kontributor: Ajie Najmuddin

Dari Nu Online: nu.or.id

Nahimunkar: Berita Islam & Aliran Sesat Tegal, Kyai, Nahdlatul Ulama Nahimunkar: Berita Islam & Aliran Sesat

Jumat, 02 Februari 2018

Aneh Jika Umat Islam Menolak Keragaman

Jember, Nahimunkar: Berita Islam & Aliran Sesat. Rais Syuriah PCNU Kencong KH Khoiruz Zad Maddah menyerukan agar NU terus meneguhkan komitmennya dalam berkebangsaan dan keragaman sekaligus menjadi contoh dalam bernegara. Sebab, komitmen kebersamaan dalam keragaman, bekangan ini semakin mengkhawatirkan. 

Aneh Jika Umat Islam Menolak Keragaman (Sumber Gambar : Nu Online)
Aneh Jika Umat Islam Menolak Keragaman (Sumber Gambar : Nu Online)

Aneh Jika Umat Islam Menolak Keragaman

Penegasan tersebut  diungkapkan kiai yang akrab disapa Gus Ya pada Taushiyah Kebangsaan di aula kantor PCNU Kencong, Selasa (15/8).

Menurutnya, para ulama (NU) cukup memahami arti kebersamaan dalam keragaman. Bagi NU, katanya, keragaman budaya, suku, agama dan sebagainya adalah sunnatullah yang tidak bisa diganggu gugat, sehingga diharapkan keragaman itu tidak memberangus kebersamaan dan kerukunan.

"Bagi kiai dan ulama (NU), keragaman itu sudah biasa. Tidak ada masalah. Sikap  ini pula yang dipegang warga NU dalam bermazhab kepada beragam imam. Sehingga terasa aneh kalau ada orang Islam mempertanyakan, bahkan tidak setuju terhadap keragaman," ujarnya.

Nahimunkar: Berita Islam & Aliran Sesat

Sementara itu, Ketua PC Lakpesdam NU Kencong, Mohammad Dasuki menyatakan betapa pentingnya bangsa Indonesia menghargai pluralitas. Sebab, tanpa saling menghargai dan menghormati, mustahil Indonesia bisa aman. 

"Kita semua perlu belajar dari  sejarah bahwa betapa keragaman mampu meluluhlantakkan suatu bangsa, jika tidak ada penghargaan terhadap keragaman itu sendiri," ujarnya. (Aryudi A. Razaq/Abdullah Alawi)

 

Nahimunkar: Berita Islam & Aliran Sesat

Dari Nu Online: nu.or.id

Nahimunkar: Berita Islam & Aliran Sesat Nahdlatul Ulama, RMI NU Nahimunkar: Berita Islam & Aliran Sesat

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Nahimunkar: Berita Islam & Aliran Sesat sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Nahimunkar: Berita Islam & Aliran Sesat. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Nahimunkar: Berita Islam & Aliran Sesat dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock